Cerita


Kode area 0751.

Seorang pemudi berjalan tergopoh-gopoh menyusuri lorong-lorong kampus yang katanya kampus termegah se asia tenggara. Kampus yang didominasi warna abu-abu pucat dengan konstruksi menyerupai rumah gadang. Pemudi itu memeluk beberapa buku tebal bersampul keras hasil pinjaman dari perpustakaan kampus sepagi tadi.  Kerudung si pemudi melambai-lambai ditiup angin bukit karamuntiang tempat kampus itu bertahta seperti biasa masyarakat sekitar menyebutnya. Seperti kastil-kastil di jaman pertengahan, bangunan-bangunan ini menyerupai sebuah kastil yang menyendiri di puncak bukit, menyendiri dari hiruk pikuk kehidupan masyarakat kota di 20 km dibawahnya. Memberikan ketenangan untuk para pencari ilmu dalam pengabdian diri mereka masing-masing. Tak pelak suasana 'tersendiri' ini memberikan sensasi kebosanan bagi beberapa pejuang ilmu tersebut.

Si pemudi menarik nafas panjang, ketika membelok masuk ke dalam kelas. Ya, dia punya kelas hari ini. Seperti kelas biasanya, kita diharuskan atau kadang terpaksa berjibaku dengan tumpukan-tumpukan kertas bersarat kata-kata berisikan ilmu, katanya seperti itu, kita mencari ilmu lewat buku. Dan memang, buku memberikan ilmu yang kita mau, tapi banyak juga orang-orang mendapatkan ilmu tidak dari buku.

Si pemudi melongsorkan badannya di sebuah kursi kayu bermeja di bagian depan kelas. Mulai berjibaku dengan buku yang digendongnya menyusuri lorong-lorong kampus tadi. Menenggelamkan diri dalam untaian-untaian huruf times new roman yang terukir di urat-urat kertas. Dan dia mewangi aroma kertas lusuh.

Lebih kurang 1599 km ditenggara, Kode area 022.

Terik matahari april mulai memanggang tengkuk seorang pemuda. Tengkuknya sudah mulai menghitam dihiasi kilatan keringat jika melihatnya dari sudut yang tepat. "anjrit, panas-panas gini gua musti kuliah, duh gusti", si pemuda menyumpah dengan lirih ke botol minuman dingin yang dipegangnya sedari tadi. Sekali-sekali botol itu diusapkannya ke dahi, leher dan bagian manapun kulitnya di setubuhi matahari. Si pemuda berjalan di bawah bayang-bayang gedung perkuliahan di sekitarnya. Melewati kolam Indonesia Tenggelam ditengah-tengah kampus, menuju Labtek III tempat perkuliahannya hari ini.

Senja pun mengusir keberadaan matahari di hari ini, horizon pun dihiasi tirai langit kuning keemasan. Ya, si pemuda tampak manikmati tiap detiknya memandangi ufuk jauh dari puncak atas bangunan kosannya. Dia terlalu antusias dengan lapisan tipis antara siang dan malam, terlebih lagi setelah malam menjelang. Kadang, di kesepian malam kita bisa mendengar bisikan alam, atau mungkin bisikan itu hanya rekaan kepala kita sendiri yang larut terpengaruhi pekatnya malam. Apapun itu, di suasana tersunyi bagian bumi ini, beberapa insan mampu mendengarkan bisikan-bisikan alam, bisikan yang kadang memojokkan, menjatuhkan, namun disisi lain justru bisikan penguji integritasnya sebagai insan.

Ditemani kelinci angkasa yang kelihatan dikejar-kejar beruang raksasa, si pemuda memandang bulatan besar si kelinci dari sudut jendela kamarnya. Kelinci angkasa yang memunggungi beruang, seperti mangsa dikejar pemangsa. Dan si pemuda pun menyadarinya "heeeh,,,langitpun mengetahui", si pemuda berkomentar sembari mendesahkan nafas beratnya.

The moon ain't romantic, its intimidating as hell. Tampaknya kata-kata itu tersirat di raut wajah si pemuda. Kelihatannya, adegan langit malam ini memutar balikkan ruang waktu di benaknya. Ada tatapan harap bercampur rindu di dua buah matanya. Sembari sekali-sekali menghembuskan nafas nya, si pemuda hanya terpaku menengadah langit. "Ini harus segera di akhiri", si pemuda berbisik. "Atau mungkin harus dikejar", dia pun melanjutkan kalimatnya setelah beberapa saat, terpaku kembali ke sebuah titik antara matanya dan langit, hanyut dalam kesendiriannya…

Kode area 0751.

"Minggu depan!!!", si pemudi berteriak histeris pada temannya. "Minggu depan apanya?", sang temanpun menanggapi dengan sudut matanya ketika dia menggulirkan kursor di layar laptopnya. "Minggu depan seminarnya, kyaaaaaa….akhirnya, aku terpilih", si pemudi berteriak bagai hyena kelaparan. "Kamu kepilih? Beneran? Kyaaaaa…", dan lengkaplah sudah, sekelompok hyena kelaparan tercipta di sebuah kamar kontrakan di kaki bukit karamuntiang, berteriak-teriak histeris sembari cekikikan. Dan memang begitulah sebuah kabar gembira, memuntahkan semua emosi keluar, sampai-sampai dua orang gadis pun keliatan seperti kelompok hyena.

"Di Bandung yah seminarnya? Duh..aku juga pengen ikutaan", sang teman tidak kalah histerisnya. "Iya, seminar international, yihaaaa…hahaha". Mereka larut dalam kesukacitaan. "Habis seminar kemana yah?", si pemudi menggoda temannya, dan mereka larut dalam keterbahak-bahakan suasana.

Kota yang bernama Buitenzorg.

Sepasang muda mudi berjalan bergandengan tangan di trotoar jalan di depan sebuah Istana Negara yang halamannya diisi ratusan rusa. Mereka mengukir langkah asmaranya di jalan sambil sekali-sekali melirik bulan pada posisi terbulatnya. "Lihat, bulan purnama, indah yah", sang pemudi berkata ke si pemuda sambil mengeratkan pegangan tangannya. "Iya yah, cantik", si pemuda tersenyum tersipu kepada kekasihnya. Dan inilah moment bulan-itu-romantis bekerja, hanya pada pasangan yang bermandikan lumpur cinta, cinta yang terlihat sisi terangnya, bukan sisi gelapnya. Seperti bulan, yang memiliki sisi terang dan sisi gelap ketika sabit, cinta pun memiliki sisi gelapnya, orang-orang akan melihat sisi terang cinta ketika saling kasmaran, namun mengalami gelapnya cinta ketika semua jalinan kasihnya mengalami goncangan kehancuran. Disinilah orang-orang berteriak menyumpahi cinta, dan menjadi bijaklah orang-orang yang memandang sisi gelap cinta ketika mengalami terangnya.

"Kamu besok gak ngantor kan?", tanya si pemuda ke pasangannya. "Gak, kenapa emang?","Nginap di kosan aku aja yah, kamu kan janji", si pemuda menjawab tanya. "Hmmm, iya, dah lama juga gak, hehe…". Dan mereka menyusuri gang-gang menuju kosan si pemuda sembari berpelukan.

Ditemani suara televisi yang disetel begitu saja, pasangan muda mudi ini berdiri berpelukan di dekat jendela bertirai biru memandangi bulan, tampak jelas kelinci bulannya. Dan ketika bulan-itu-mempengaruhi-emosi bekerja, bibir mereka saling bersujud satu sama lain, mengeratkan pelukan, dan ditambah birahi yang semakin meningkat. Keduanya asik masyuk satu sama lain bersandarkan ke dinding, kecupan demi kecupan berjatuhan dimana-mana, dan balutan tubuhnya sudah berpindah tempat ke sudut kamar entah dimana,  tangan kecil si pemudi menggapai-gapai udara yang pastinya tidak bisa digenggam, suhu udarapun naik seiring waktu berjalan, dan mereka kelihatan seperti dua butir nasi yang saling menempel. Dan tidak menyadari tentunya, dua sosok ghaib mengamati mereka serius dan mencatat seperti penulis yang kebanjiran ide dan menghayalkan kenaikan gaji dari atasannya karena cerita yang dibuatnya terlalu panjang.

Dan terlupakanlah semuanya sementara, apapun yang sedari tadi menjadi buah pikiran pasangan muda mudi ini larut dalam erangan-erangan kecil dan gapaian-gapaian tangan yang tidak berkejelasan. Sehingga.. "Bulannya indah banget yah, aku sayang kamu," "Aku juga sayang kamu," mereka kembali memberhalakan bulan, berdiri berangkulan diselimuti tirai biru.

Kode area 022.

Kota ini terletak di dataran tinggi, ya, bisa dibilang dataran tinggi, dengan bukit-bukit yang mengitarinya bagai benteng alami, dan konon kabarnya dahulunya sangat sejuk, tidak seperti saat ini. Matahari seperti berada di puncak ubun-ubun. Si pemuda sedang memperhatikan pengumuman di sebuah mading jurusan. Tiba-tiba temannya pun menghampiri.

"Lu jadi berangkat pulang? Cepet amat lu mudiknya."

"Iya, mau gimana lagi, bos besar nyuruh cepet-cepet..he he.." si pemuda menjawab.

"Yaudah, kita ke kosan lu aja yuk, gerah nih, males banget."

Mereka berdua berjalan menyisiri sudut-sudut kampus yang telah berdiri dari masa pemerintahan Belanda ini. Mencoba menghindari sengatan matahari april.

Kota yang bernama Buitenzorg.

Nokia Communicator bergetar-getar di sebuah meja kantor. Tampak seorang pemuda sibuk memindahkan lembaran-lembaran kertas berupaya mencari letak sumber bunyi. Setelah menemukannya, benda itu langsung diangkat dan si pemuda menekan tombol answer.

"Halo, aku lagi kerja sayang, ada apa?"

"Awal minggu ini kita jadi kan liburannya? Kamu kan udah janji sayang." yang menelepon menjawab.

"Iya jadi, tiket nya udah aku pesen kok." si pemuda mengulum senyumnya.

"Kamu siap-siap yah, sekarang udah mau akhir minggu lho." si pemuda melanjutkan. Dan percakapan mereka berlanjut.

Kode area 0751.

"Handuk…ada."

"Perlengkapan mandi…ready."

"Charger handphone…udah."

"Bahan seminar?? Hmm…mana yah…oiya belum diambil."

Si pemudi mendata kembali barang bawaannya. Dua hari sebelum keberangkatannya  untuk seminar di Bandung.  Ternyata masih ada barang yang belum dimasukkan ke dalam tas backpack nya.

"Aku ke kampus dulu yah, mau ngambil bahan buat seminar." si pemudi pamitan ke teman satu kosannya.

Malam sebelum hari keberangkatan.

Kode area 0751.

"Udah gak ada lagi yang ketinggalan kan?" teman si pemudi melakukan interogasi kecil-kecilan.

"Udah, beres semua, hihi."

"Besok aku anterin yah pagi-pagi." si teman memberikan sebuah tawaran.

"Ya, boleh, kalo kamu mau."

Kode area 022.

Langit kembali dihiasi kelinci bulan. Si pemuda duduk memeluk kakinya di pinggiran jendela. Kembali menengadah langit.

"Khhh..musti bangun subuh hari." batinnya.

Langitpun menambah melankoli suasana hatinya seperti malam-malam sebelumnya.

Buitenzorg.

Sebuah koper kecil berwarna merah terletak di sudut kamar, dan sebuah ransel kecil juga telah dipersiapkan. Pasangan ini sedang membalik-balikkan brosur tur dari agen penjualan tiket. Tampak ketidaksabaran dari mimik wajah si pemudi.

Bandara

Dari kejauhan terlihat koper merah kecil ditarik dengan lembut oleh seorang perempuan muda. Koper ini terlalu mencolok ditengah-tengah koper hitam atau coklat disekelilingnya. Tak kalah mencolok perempuan muda yang menariknya, terlihat jelas kontraksi otot leher laki-laki di sudut tiang sana yang mencoba mengikuti liuk-liuk badan si perempuan muda. Perempuan muda bergandengan dengan pasangannya. Mereka adalah pasangan muda-mudi Buitenzorg.

Seiring derapan bunyi sol sepatu, mereka melangkah menyisiri ratusan manusia manusia menuju gerbang keberangkatan.

Kurang dari 100 meter dari pasangan muda mudi ini, seorang pemuda memangku ransel kecilnya duduk disebuah kursi panjang bersama calon penumpang lain. Menengadah melihat layar LCD yang menampilkan jadwal keberangkatan. Pemuda ini tampak kebosanan dengan layar LCD yang menempel di tiang bandara ini. "Terlalu kepagian", keluhnya. Pemuda 022 ini mencoba menyibukkan diri dengan buku bacaan yang telah digenggamnya.

Mata si pemuda tidak sengaja melirik kedepan, melihat bertambah banyaknya orang-orang yang berdatangan. Dan dalam tempo sepersekian detik, matanya berpapasan dengan sepasang mata lain. Pemuda ini melihat kearah seorang pemudi yang tergopoh-gopoh kebingungan. Yang tak lain dan tak bukan adalah si penguasa mata yg dilihatnya sebarusan. Berhubung kursi si pemuda ini masih menyisakan tempat untuk tiga orang, si pemudi langsung duduk bersebelahan dengan si pemuda. Melirik jam tangan, dan kembali memutar mutarkan kepala mencari sebuah petunjuk yang tidak tahu dimana.

"Mas, boleh tanya gak?"

"Ya, ada apa??", si pemuda membalas sembari menutup buku bacaannya.

"Cipaganti tau gak dimana? Mau ke Bandung nih."

"Di depan terminal kedatangan ada kok, tapi kalo jam segini kayaknya gak ada deh, musti nunggu setengah jam lagi, baru ada yang berangkat lagi."

…………………….... dan percakapan mereka berlanjut.

Epilog

Si pemuda 022 dan si pemudi 0751 saling mengenal satu sama lain, atas dasar kebetulan satu kursi panjang, dan atas kebetulan si pemuda berdomisili di Bandung. Terjadi sebuah pertemuan cerita mereka berdua, di bandara, di kursi panjang. Kita semua memiliki cerita kita masing-masing yang jelas berbeda satu sama lain. Kita penulis, pelukis, yang menulis di buku besar kehidupan kita, melukis di kanvas makro kehidupan. Dengan tinta dan cat cerita. Dengan warna kejadian. Terkadang kita berbagi pena dengan yang lain, untuk menuliskan cerita yang sama. Kita adalah jalan satu arah, dimana suatu masa kita berbelok, lurus, menurun, mendaki, atau malah memutar arah, bahkan suatu masa kita berbagi jalan yang yang sama dengan yang lain.

Bandara, seperti tempat-tempat lain, merupakan tempat pertemuan cerita-cerita manusia. Cerita-cerita yang kadang saling tidak bersua, atau malah tempat pertemuan cerita satu dengan yang lainnya.

Kita penulis, yang ingin menuliskan cerita yang demikian indahnya, dan mencoba menjadi indah di cerita orang lain.


Bandung-Bukittinggi, 2011
 


Comments




Leave a Reply